 Semoga situs ini dapat menstimulasikan diskusi mengenai Pendidikan Agama.
(Maaf, Sedang DiBuat 6 September, 2011 - Draft Saja)
"Sayang Kalau Di Negara Kita (Indonesia) Yang Paling Sering Sholat/Berdoa Di Dunia, Kita Terus Terkenal Sebagai Negara Yang Termasuk Yang Paling Korup (Tidak Benar) Di Dunia"
Berarti kita mendapat ranking yang paling rendah dari 16 negara dalam isu-isu moral yang terpenting; kejujuran, tangungjawaban, kepedulian orang lain, kepedulian keadilan bangsa, maupun kepedulian negara kita.
Di Halaman Utama Kami Tanya...
Apakah Itu "Agama pun Takluk - Kalah Melawan Korupsi" Atau Pendidikan Agama Yang Kalah?
Di Situs KemenAg.go.id kita melihat bahwa Tujuan Pendidikan Agama (dari visi-nya) adalah mendukung "Terwujudnya masyarakat Indonesia yang Taat Beragama, Rukun, Cerdas, Mandiri Sejahtera Lahir Batin." (Keputusan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2010).
Berarti peran pendidikan agama adalah mendukung:
1. Terwujudnya masyarakat Indonesia yang Taat Beragama
2. Rukun
3. Cerdas
4. Mandiri Sejahtera Lahir Batin
Bagaimana kita dapat mencapaikan tujuan-tujan KemenAg ini dalam proses pendidikan? Apa pedagogi-pedagogi yang akan efektif untuk mencapaikan tujuan-tujuan pendidikan in?
Kalau kita melihat 4 tujuan pendidikan (objective) di atas kita tidak dapat melihat satupun yang yang "Berbasis-Hafalan". Tetapi di dalam semua adalah komponen "Pengetahuan". Pengetahuan bukan hafalan, pengetahuan adalah Berbasis-Pengertian.
Kami sering sedih mendengar saran seperti... "Anda cerdas sekali bisa menghafal/membaca....." Apakah cerdas ada hubungan dengan hafalan/membaca?
Tahap pertama memang adalah merancang kurikulum yang tepat sesuai dengan tujuan-tujuan KemenAg, tetapi yang sama penting adalah kita perlu melaksanakan kurikulum itu sesuai dengan metodologi yang akan mencapaikan tujuan-nya.
Karena tujuan-nya tidak berbasis-hafalan, kita perlu melaksanakan pendidikan dengan metodologi yang dapat meningkatkan cerdas-nya (SDM-Manusia), kreativitas, inovasi, kemandirian, dll.
Berarti, metodologi yang sesuai CTL (Pembelajaran yang Aktif dan Kontekstual) Supaya terkait dengan kenyataan dan kebutuhan kita, maupun mengarah ke bangsa yang cerdas... Yang dapat mandiri.
Kami sudah menjalankan jaringan Pendidikan Network Indonesia sejak tahun 1998 dan kalau isu moral muncul seringkali guru, siswa/i, dan mahasiswa/i sebutkan "kita perlu tambah pembelajaran agama".
Tetapi tambah apa, anak-anak kita belajar agama sejak lahir, maupun setiap hari di sekolah dan lewat ritual-ritual, agama-nya ditambah terus. Mau tambah apa? Dan selama kami bertanya begitu, belum ada satu jawabanpun...
Kalau kita melihat berita kemarin sebagai contoh: "Atasi Tawuran, Menag Tingkatkan Pendidikan Agama kita perlu tanya, apakah KemenAg sudah melaksanakan penelitian mengenai sebabnya "Tawuran" menjadi masalah (semoga sudah), tetapi saya hanya bisa sebutkan (dari pengalman di Australia dulu) bahwa itu bukan solusi-nya di negara lain.
Apakah solusi-nya adalah tambah? Saya kira "kejenuhan" barangkali sudah termasuk salah satu masalah... Tambah lagi... Tambah apa?
Dari observasi selama 18 tahun, masalah utama kelihatanya "Bukan Banyak-nya", masalah-nya adalah "Mutu-nya" dan Aspek-Aspek Kontekstual (pendidikan agama yang relevan dan berarti).
Pembelajaran agama, seperti pembelajaran mata pelajaran yang lain, akan gagal sebagai ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan maupun pengertian kalau hanya berbasis ritual dan hafalan.
Baru kemarin kami ikut salah satu rombongan guru yang ingin melaksanakan pelatihan untuk guru-guru di banyak wilayah di Indonesia. Karena tujuan mereka, menurut kami, adalah kurang jelas kami tanya banyak guru (anggota) apa tujuan pendidikan menurut mereka. Jawaban-nya sangat konsistan "Mencerdaskan Bangsa". Ya masuk akal, kami kira di semua negara tujuan pendidikan adalah begitu kira-kira.
Tetapi yang sangat aneh, waktu kami tanya "apa artinya cerdas", naaa... mereka bingung.... Maupun tidak ada yang dapat menjawab dengan jelas, dan kayaknya banyak yang kurang berani coba menjawab. Bagaimana mereka sebagai guru dapat mengajar kalau tujuan mereka sendiri "Mencerdaskan Bangsa" adalah kurang jelas, apalagi melatih guru-guru lain?
Sekarang balik ke
1. Terwujudnya masyarakat Indonesia yang Taat Beragama
2. Rukun
3. Cerdas
4. Mandiri Sejahtera Lahir Batin
Kami yakin bahwa tujuan-tujuan itu sudah dianalisa dan dibedah sebelum proses membentuk kurikulum, tetapi kami sendiri belum tahu proses yang dilaksanakan. Tetapi oleh karena banyak isu yang sangat terkait dengan dasarnya agama manapun kayaknya kurang dipahami, maupun didalami, itu jelas bahwa kurikulum-nya perlu dibedah ulang untuk mengisolasikan poin-poin yang terkait dengan kegagalan pendidikan agama kita dan dimasukkan ke dalam silabus. Seperti:
1. Kejujuran
2. Kepedulian
3. Kewajiban
4. dllllllllll - (Semua isu ini perlu di-identifikasikan dan di-definisikan supaya jelas)
Ada satu isu lagi yang sangat perlu diperhatian yaitu poin-poin ini diintegrasikan (dan re-inforce) dalam semua topik pembelajaran agama supaya didalami dan mereka betul mengerti arti-nya agamanya. Bukan hanya menghafal ritual-ritual, atau bahasa yang terkait ritual-nya. Pelajar-pelajar dapat menghafal semuanya tanpa mengerti, maupun tidak mendalami sama sekali.
Seperti banyak penyanyi di negara kita, mereka dapat menyanyi puluhan lagu barat, tetapi tidak mengerti arti-nya (saya sering ditanya mengenai arti-nya). Apalagi kalau bahasa-nya sangat terkait kebudayaan asing atau konsep-konsep yang mereka belum mengalami. Isu utama adalah bahasa-nya harus penuh berarti buat mereka (sesuai kemampuan dan sesuai kebudayaan sehari-hari mereka). Kalau pakai bahasa asing sebaiknya menggunakan reference dalam bahasa mereka yang sudah diterjemahan oleh seorang profesional karena interpretasi kita masing-masing dapat jauh berbeda.
Metodologi: Metodologi yang paling sering digunakan di Indonesia adalah pembelajaran-pasif (berbasis-hafalan) dan "Teacher Centered", yang tidak mengajak kreativitas, inovasi, dan tidak mendukung kemandirian.
Metodologi yang paling efektif untuk mengatasi isu-isu seperti pengertian, dan mendalami pembelajaran adalah "Discovery Learning" - Pembelajaran yang berbasis pelajar yang menemui jawaban atau solusi-nya sendiri, tidak disuapkan. Discovery Learning adalah dasarnya Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM-CTL). Ini memang metodologi yang terbaik untuk semau mata pelajaran dari TK sampai PT karena fokusnya adalah perkembangan manusia SDM.
Sebagai contoh yang sangat sederhana, kalau topik-nya terkait "kejujuran", daripada secara autoritas sebutkan persepsi-nya guru atau menggunakan contoh yang belum tentu relevan di kehidupan mereka...
Tanya mereka sesuatu seperti "kalau mereka lagi jalan ke pasar dan menemui dompet di jalan yang berisi ratusan ribu Rupiah, apakah seharusnya mereka bilang "Terima Kasih Tuhan", dan belanjar seenak maunya di pasar, atau mencari yang memiliki dompet itu?
Kalau mereka jujur atau tidak jujur mereka barangkali akan menjawab "mencari yang memiliki dompet itu" karena walapun mereka jujur atau tidak jujur, mereka tidak bodoh dan di kelas mereka dapat tebak jawaban yang diharap oleh guru-nya. Di banyak kelas pembelajaran-nya berhenti di sini...
Tetapi pembelajaran-nya baru mulai pada waktu di dalam kegiatan berkelompok mereka harus membahas dan mencatat semua sebabnya mereka memilh jawaban mereka dan dipresentasikan ke kelas-nya.
Diskusi secara kelas akhirnya sebagai kesempatan untuk konsolidasikan jawaban-jawaban mereka sendiri yang sangat berarti dan didalami karena dari diri-sendiri.
Kalau ingin melanjutkan ke isu-isu KEADILAN, tanya mereka Apa seharusnya hukumnya untuk orang-orang yang tidak mencari yang memiliki dompet itu, atau tidak melaporkan ke polisi? Kasus ini dapat dibandingkan dengan hukum yang adil ontuk beberapa kasus (contoh) yang lain. Diskusi-nya pasti sangat menyenagkan, sambil meningkatkan kesadaran dan mengolahragakan otak mereka sekalian.
Mohon jangan lupa bahwa kalau kita ingin menuju bangsa yang cerdas, pasti kemampuan untuk mengkritik, menganalisa, sintesis, inovasi, kreativitas, dllllll juga sangat penting untuk anak-anak kita. Di negara maju faktor-faktor begini dianggap penting dari pendidikan tingkat SD, dan dapat sangat membantu mendalami pengertian pembelajaran-nya
Informasi Lanjut Mengenai Pembelajaran Aktif
Sikap Saya Secara Pribadi Terhadap Solusi Isu-Isu Moral Dan Karakter
Re: Saran saya di FB TP saya...
@Chrislia Cahaya Hidayat - Terima kasih
Re: "Pendidikan agama tidak bisa disalahkan' tapi di jaman yg udah modern ini' anak2 usia sekolah sdh berkecimpung dlm dunianya sendri' disadari atau tdk' lingkungan sosial yg mempengaruhi daya imajinasi' ada kecenderungan jg mereka dipengaruhi budaya lingkungan' keluarga dan faktor psikis dri back ground penanaman akhlak dri keluarga. Kunci dari semua keseimbangan antara kurikulum dan efektifitas jg pelaksanaannya msh bth referensi yg lbh kuat dri manajemen sumber daya manusia'"
Re: "di jaman yg udah modern ini"
Kita boleh bilang bahwa dari awal manusia (bukan sesuatu baru), manusia sangat di pengaruhui oleh "lingkungan sosial yg mempengaruhi daya imajinasi' ada kecenderungan jg mereka dipengaruhi budaya lingkungan".
Ini sebabnya saya bilang "anak-anak kita belajar moral dan karakter" dari lingkungan mereka, bukan dari yang diajarkan dalam kelas (kalau pembelajaran-nya tidak sesuai kenyataan di dunia mereka - mereka dapat angap tidak relevan). Tetapi lingkungan sekolah juga mempunyai potensial besar untuk mempengaruhi moral dan karakter, ini isu yang sangat penting...
Bagaimana lingkungan pendidikan kita? 'Korupsi terjadi di semua tingkatan dari KemenDikNas, dinas pendidikan, hingga sekolah" (ICW) "Dinas pendidikan telah menjadi institusi paling korup dan menjadi isntitusi penyumbang koruptor pendidikan terbesar dibanding dengan institusi lainnya"
Apakah Pendidikan Anti-Korupsi di sekolah dapat berhasil?
Re: "Pendidikan agama tidak bisa disalahkan"
Saya kira bisa disalahkan karena lebih terfokus kepada isu-isu yang berbasis hafalan dan ritual, daripada pesan-pesan agama yang penting yaitu "Moral dan Karakter".
Kalau mencari sebabnya begini kita perlu tanya apakah: "Mutu SDM Di Tingkat Manajemen Pendidikan Agama Lemah? Proses Bedah Kurikulum Yang Tidak Tepat? Silabus-Silabus Yang Tidak Tepat? Metodologi Untuk Melaksanakan Tidak Tepat? Mutu SDM Yang Melaksanakan Pendidikan Lemah? Moralitas Rakyat Yang Tidak Sesuai Dengan Moralitas Dan Karakter Yang Diajarkan (tidak kontekstual)? Dll."
Saya sendiri percaya bahwa cara menghadapi isu-isu moral dan karakter di negara kita sekarang adalah oleh meningkatkan Mutu Pendidikan Agama supaya lebih relevan dan lebih terkait isu-isu di dunia kita. Maupun kita harus berjuang untuk Meningkatkan Moral dan Karakter Di Tingkat Manajemen Pendidikan Kita, Termasuk Sekolah.
Anak-anak kita belajar Moral dan Karakter dari Lingkungan-nya.
Memberantaskan Korupsi Dan Tidakkejujuran Di Manajemen Pendidikan Kita Supaya Anak-Anak Kita Diberikan Kesemapatan Untuk Moral dan Karakter Yang Baik.
Salam Pendidikan Moral dan Karakter
Phillip Rekdale
"JAKARTA, KOMPAS.com - Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas.
"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa." -- Fasli Jalal
"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam diskusi panel Pendidikan Profesi Guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Sabtu (4/12/2010)"
Apakah kita mungkin dapat berharap anak-anak kita akan Aktif (maupun Pro-Aktif), Kreatif, dan Mampu Berkontribusi Kepada Perkembangan Indonesia dengan Pembelajaran-Pasif?
 (Situs Perkembangan Profesional Secara Swadaya)
Kunci-nya untuk mencapaikan mutu pendidikan yang Tingkat Dunia adalah Pembelajaran-Aktif (Student-Centred) dan Kontekstual.
Kami Sedang (dalam proses) Menulis Isi-nya Untuk Sektor Pendidikan Masing-masing.
    

Situs Ini Baru Dibuat Tanggal 31 Agustus, 2011 Maaf, Situs Baru Mulai Dikembangkan!
|